Istri Bukan Pembantu

apdk.blogspot.com : Istri Bukan Pembantu adalah judul yang tertulis di back-drop besar saat saya menghadiri undangan dari Dompet Dhuafa Hongkong, Ahad 16/1/11 lalu. Sebenarnya yang diundang ceramah bukan hanya saya sendirian, tetapi ada banyak ustadz lain, di antaranya guru saya sendiri, Dr. Lutfi Fahtullah MA, Ustadz Anto Budianto, Ustadz H. Ali Makmun dan yang lain-lain.

Tetapi entah mengapa tulisan yang dipasang besar-besar justru tentang Istri Bukan Pembantu, barangkali judul itu memang bikin heboh. Setidaknya, menjadi sesuatu yang baru buat ribuan TKW Indonesia di Hongkong.

Tetapi apa yang banyak mereka ceritakan ke saya memang membuat miris, betapa tidak, mereka adalah para istri yang seharusnya duduk manis di rumah menerima nafkah dari suami. Tetapi keadaan mereka terbalik, justru mereka lah yang bekerja banting tulang sampai ke negeri orang, untuk bisa mengirimkan nafkah mereka buat suami dan anak-anak.

Padahal kalau kita merujuk kepada syariat Islam, yang namanya istri memberi nafkah buat suami, jangankan wajib, sunnah saja pun tidak. Tetapi begitulah, 4 jutaan rupiah per bulan yang mereka dapat dari kerja keras itulah yang selalu mereka kirimkan ke kampung halaman, untuk dinikmati oleh suami dan anak-anak mereka.

Saya sendiri tidak bisa membayangkan kalau istri saya itu yang jadi pembantu di negara orang, tiap hari bergelimang dengan babi, karena tugas mereka umumnya adalah sebagai pembantu rumah tangga, dimana orang Hongkong memang doyan babi. Dan juga terbiasa memelihara anjing untuk tinggal di dalam rumah mereka.

Tetapi keadaan TKW kita di Hongkong mungkin sedikit lebih baik dari negeri lain, setidaknya secara umum. Sebab banyak dari mereka yang cerita bahwa di Hongkong masih ada kepastian hukum, dimana majikan cenderung umumnya lebih mengerti tentang aturan dan ketentuan. Tidak sedikit dalam perkara di pengadilan, hukum disana sering memihak kepada TKW kita.

Bahkan tidak sedikit mereka yang diberi kebebasan di luar jam kerja. Sehingga ada libur di hari Ahad atau hari-hari tertentu. Bahkan ada jam kerja, dimana kalau sudah lewat jam kerja, majikan tidak berani mengetuk pintu kamar pembantunya untuk minta tolong.

Memang tidak semuanya dapat kenikmatan seperti itu, ada juga yang disiksa dan dianiaya majikan, bahkan yang sampai harus kabur dari majikan. Tetap saja kasus-kasus seperti itu masih ada. Tetapi kalau saya bandingkan dengan TKW kita di timur tengah (baca: negeri muslim), rasanya sedih juga.

Di Hongkong ini masyarakatnya makan babi, tetapi masih banyak yang bisa memuliakan pembantu. Sementara di Arab, banyak sekali pembantu yang dijadikan (maaf) babi. oleh umat Islam sendiri. La haula wala quwwata illa billah.

Istri Bukan Pembantu

Pada dasarnya Islam sangat memuliakan derajat para wanita, sehingga umat Islam tidak butuh hari Kartini atau semacam Mother`s Day yang sifatnya sangat simbolis. Misalnya dengan istri boleh tidak memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi hanya sehari itu saja. Yah, sebenarnya itu sih cuma main-main saja.

Sedangkan posisi syariat Islam langsung kepada realitas bahwa seorang istri tidak wajib memberi nafkah buat suaminya. Sebaliknya, justru suaminya lah yang wajib memberinya makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan semua kebutuhannya.

Gampangnya, istri hanya tinggal buka mulut, suaminya lah yang wajib memasukkan makanan siap saji ke dalam mulut istrinya. Meski ada khilaf juga di tengah ulama dalam hal ini, namun mazhab As-Syafi`i dan banyak mazhab lainnya yang secara tegas menyebutkan bahwa pada dasarnya pernikahan itu hanya mewajibkan seorang istri untuk melayani suaminya secara seksual saja, tidak lebih.

Yang wajib memasak, belanja, menyapu, mengepel, mencuci pakaian, beres-beres rumah, sampai urusan kebutuhan rumah tangga, bukan istri tetapi suami. Aneh? Nggak juga.

Kalau pun istri melakukan semua itu, sifatnya hanya membantu saja, tidak ada kewajiban dari langit atas seorang wanita untuk dipaksa melakukan semua itu. Sebab seorang istri bukanlah pembantu. Istri adalah wanita yang mulia, dia adalah ratu dalam rumahnya.

Singkat sekali kunjungan saya ke kampungnya Jackie Chen ini, cuma sehari doang. Malam mendarat, besok sorenya udah cabut lagi pulang ke Jakarta. Memang pihak pengundang hanya punya satu momen itu saja. Buat saya sebenarnya enak, karena tidak perlu lama-lama meninggalkan semua kewajiban di tanah air.

Postingan populer dari blog ini

Jika Haid Itu Datang

Apa hukum menagih hutang ?

tafsir Surah Al Ikhlas