Mendirkan Shalat Bukan Mengerjakan
Mendirkan Shalat Bukan Mengerjakan
“...dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan ”. ( Al-Ankabut : 45 )
Dalam Alquran Allah menegaskan, dirikanlah shalat karena dengan shalat seseorang dapat tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Namum pada kenyataannya, mengapa di negeri kita yang merupakan Negeri berpenduduk mayoritas muslim terbesar didunia ini masih juga banyak terjadi perbuatan keji dan munkar ? pembunuhan, Korupsi, Riba, Perselingkuhan, Pergaulan Bebas, Hingga kaum hawa yang tanpa bersalah sedikitpun memarkan aurat, dsb masih saja kerap terjadi. Munkinkah Allah Swt Ingkar janji ? atau mungkinkah shalat kita yang tidak berarti ?
Tidak Sekedar Shalat
Perintah shalaat adalah perintah Allah Swt dalam Alquran yang paling sering disebut dan setidaknya ada 59 kali kata shalat diulang-ulang. Dalam islam, shalat menempati posisi vital dan strategis. Ia merupakan salah satu rukun islman yang menjadi garis pembatas apakah seseorang itu mukmin atau kafir. Rasulullah saw bersabda :
“ Perjanjian yag mengikat antara kami dan mereka adalah mendirikan shalat. Siapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir ” ( H.R. Muslim ) .
Sedemikian vitalnya shalat, Maka ibadah shalat dalam islam tidak bias diganti atau diwakilkan. Ia wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi aman, takut, dalam keadaan sehan dan sakit, dalam keadaaan bermukim dan musafir.
Didalam kitat At Ta’rifat dijelaskan, shalat dalam bahasa Arab mengandung dua makna. Pertama, shalat berarti doa. Kedua shalat berarti shalawat. Yaiutu mengagungkan nabi Muhammad saw dengan membacakan ucapan keselamatan kepadanya.shalat dia artikan dengan doa karana pada hakikatnya shalat adalah suattu hubungan vertical antara hambanya dengan rabbnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat :
“ Dan aku memerintahkan kamu untuk shalat jika kamu shalat maka janganlah kamu berpaling ( menoleh ) karena sesunguhnya Allah Swt menghadapkan wajahNya ke wajah hambatersebut dalam shalat selama dia tidak berpaling ” ( H.R. Muslim ) .
Imam Ibnu Qayim dalam kitabnya Khudurul Qalbi Fis Shalah menyebutkan : Manusia dalam melaksanakan shalat dikelomokan menjadi 5 tingkatan :
Pertama : tingkatan orang-orang yang zhalim terhadap drirnya, yaitu orang-orang yang tidak menyempurnakan wudhunya, waktunya, batasan-batasanya, dan rukun-rukunya. Baik buruknya shalat tidak menjadi persoalan.
Kedua : orang yang menjaga waktu shalatnya, batasan-batasan,rukun-rukunnya dan wudhunya, tetapi dia tidak berusaha melepaskan dirinya dari godaan,sehingga dia hanyut dalam godaaan dan berbagai macam timbul dari pikirannya.
Ketiga : orang yang menjaga batasan-batasan shalat, rukun – rukunnya, dan berusaha untuk melawan gudaan dan fikiran yang muncul, akhirnya dia larut dalam usaha melawan syaitan sehingga tidak mencuri shalatnya, maka berarti dia berada dalam shalat ( jasad dan hatinya ) dan bersungguh – sungguh dalam mengerjakannya.
Keempat : orang yang melaksanan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya,rukun dan batasan-batasannya, hatinya larut menjaga batasan-batasanya dan hak-hakn shalat tersebut sehingga tidak ada yang luput, semua perhtiannya tercurah untuk mendirikan dan menyempurnakan shalat sebagaimana mestinya, berarti hatinya larut dalam shalat beribadah dan beribadah kepada Allah Swt.
Kelima : orang yang melaksanakan shalat seperti tingkatan keempat tadi ditambah lagi dia meletakan hatinya sepenuhnya dihadapan Allah Swt, dia melihat kepada Allah Swt dengan hatinya dan mengawasinya, hatinya dipenuhi dengan rasa cinta dan pengagunganya kepada Allah Swt, seolah dia melihat dan menyaksikannya. Orang yang seperti ini dibandingkan dengan yang lainnya jelas lebih utamasebagaimana perbedaan antara langit dan bumi, karena dia dalam shalatnya sibuk dengan Allah Swt di tentram bersamanya.
Shalatnya Orang Yang Khusyu’
Manusia hanya akan sanggup untuk mengahadirkan hatinya dalam shalat dan menyibukan hatinya tersebut dalam shalat bersama rabbnya ketika dia bias menguasai syahwat dan hawa nafsunya. Jika tidak maka hatinya akan dikuasai oleh syahwatnya dan di pnjara oleh nafsu. Ketika itulah syetan medapatkan tempat untuk duduk dengan nyaman didalam sehingga dengan mudah dia menggoda dengan was-was dan berbagaimacam pikiran ( dunia ).
Allah Swt berfirman :
Artinya : “ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya ” .
Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan makna khusyu’ dalam ayat diatas yaitu khusyu’ yang berarti tawadhu yang disertai dengan tenangnya hati dan tentrmanya jasad. Sedangkan, imam Qatadah menambahkan, khusyu’ itu didalam hati yaitu rasa takut dan menjaga pandangan saat shalat. Memang demikianlah, shalat semstinya senantiasa menyadarkan kita bahwa sesungguhnya dorongan hati itu selalu ingin terikat dan mengingat diri kepada Allah Swt. Layaknya anak kecil yang selalu ingin berdekatan dengan ibunya. Betapa tidak karena Allah Swt adalah yang serba maha, yang digemgamnya nasib seluruh alam semesta dan seisinya. Kalau kita tidak selaluingat, menikatkan diri dan berserah diri kepada Allah Swt, sementara manusia adalah ciptaanya yang paling mulia, lalu kepada siapa mau besujud dan berserah diri ?
Mendirikan bukan Mengerjakan
Jika kita perhatikan perintah shalat dalam alquran, selalu dimulai dengan kata ‘ aqimu ’ kecuali 2 ayat tau bahkan hanya 1 ayat ). Kata ‘ aqimu ’ biasa diterjamkan dengan mengerjakan atau mendirikan meskipun sebenarnya tidak tepat. Karena seperti kata imam Al Qurthubi dalam tafsirnya ‘ aqimu ’ bukan terambil dari kata ‘qama’ yang berarti berdiri tetapi kata itu berarti ‘ bersinambung dan sempurna ’. sehingga perintah tersebut melaksanakannya dengan baik, khusyu’ dan bersinambungan sesuai dengan syarat rukun dan sunahnya.
Jika demikian sesungguhnya banyak orang yang shalat tetapi sejatinya tidak mendirikannya. Banyak orang yang shalat dengan sempurna rukuk,syarat dan sunahnya namun tidak sedikit yang tidak menghayati arti dan tujuannya shalatnya. Itulah mungkin sebabnya banyak masalah ditubuh umat islam pada saat ini. Bias jadi permasalahan awal dan utmanya adalah karena shalatnya belum sempurna, belum memenuhi syarat,rukun,khusyu’ dan ikhlas, sehingga shalat yang selama ini belum memberikan dampak positif yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Maka, shalat tidak hanya harus ‘ dikerjakan ’ yang hanya ritual belaka, tetapi shalat harus ‘ didirikan ’ dengan segenap kemampuan dan kesungguhan menggapai keridhaan Allah Swt.